Inilah Alasan Mengapa Anda Memerlukan Proteksi Sakit Kritis

Banyak orang dari kalangan atas hingga bawah telah memiliki proteksi kesehatan. Untuk kalangan menengah ke atas, proteksi kesehatan swasta cenderung lebih dipilih. Sedangkan untuk kalangan menengah ke bawah, BPJS Kesehatan yang menjadi primadona.

Proteksi kesehatan swasta dan BPJS Kesehatan sama-sama bagus dengan segala kurang dan lebihnya. Terbukti manfaat proteksi kesehatan telah dirasakan oleh banyak orang.

Tapi tahukah anda, selain proteksi kesehatan, ada jenis proteksi lain yaitu proteksi sakit kritis?

Sebelum kita lanjutkan pembahasannya, sebaiknya kita tahu sebagian dari penyakit yang termasuk penyakit kritis.

Penyakit kritis ada banyak macamnya. Mari kita kenali sebagian dari penyakit kritis tersebut.

  1. Serangan jantung

Definisi singkat mengenai serangan jantung adalah terhentinya aliran darah yang menuju ke jantung.  Hal ini menyebabkan sebagian sel jantung menjadi mati.

Penyebab terbanyak serangan jantung diakibatkan penyumbatan pembuluh darah.

Informasi selengkapnya bisa dibaca di sini.

  1. Stroke

Stroke merupakan peristiwa rusaknya sebagian dari jaringan otak. Penyebabnya yaitu pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke otak tersumbat,robek, atau bocor.

Informasi selengkapnya bisa dibaca di sini.

  1. Lupus

Lupus adalah penyakit akibat adanya anomali pada sistem dan kerja sel pertahanan tubuh manusia. Sel pertahanan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari masuknya kuman atau gangguan eksternal lainnya justru menyerang tubuh pemiliknya.

Informasi selengkapnya bisa dibaca di sini.

  1. Penyakit Hati Kronik

Contoh penyakit hati kronik adalah sirosis dan hepatitis. Informasi selengkapnya bisa dibaca di sini dan di sini.

Lalu, apa bedanya proteksi kesehatan dengan proteksi sakit kritis ? Mungkin sebagian besar orang bertanya-tanya seperti itu dalam hati.

Perbedaannya adalah, proteksi kesehatan menjamin SEBAGIAN atau SELURUH biaya perawatan dan operasi seseorang selama berada di rumah sakit. Sedangkan proteksi sakit kritis MEMBERIKAN santunan saat seseorang menderita penyakit kritis. .

Kilas balik sejenak mengenai sejarah proteksi sakit kritis. Proteksi ini pertama kali dibuat oleh Dr. Marius Barnard di Afrika Selatan pada 6 Oktober 1983. Setelah itu, produk proteksi sakit kritis ini mulai menyebar ke berbagai negara.

Lalu, apakah kita perlu proteksi sakit kritis?

Jawabannya adalah PERLU!

Mengapa?

“Karena saat seseorang menderita sakit kritis, orang itu tetap memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan dia dan keluarganya”

Di bawah ini adalah kebutuhan-kebutuhan yang mungkin timbul saat seseorang terkena sakit kritis.

  1. Biaya hidup untuk diri sendiri yang timbul selama perawatan dan biaya hidup untuk keluarga apabila ternyata orang itu tidak mampu untuk bekerja lagi.
  2. Biaya akomodasi seperti biaya makan, transportasi, dan penginapan untuk orang yang menemani. Biaya ini akan semakin besar apabila jumlah orang yang menemani semakin banyak.
  3. Biaya lanjutan yang timbul setelah perawatan di rumah sakit selesai. Contohnya. Biaya untuk perawat yang bekerja di rumah, biaya cuci darah hingga seumur hidup, biaya untuk pengobatan alternatif, atau biaya untuk membeli suplemen kesehatan.
  4. Segala biaya yang tidak bisa dibayarkan akibat tidak ada pemasukan selama menderita sakit kritis. Misalnya cicilan rumah, cicilan mobil, cicilan motor, dll.
  5. Biaya untuk kesempatan yang hilang. Maksudnya, ada kesempatan-kesempatan di masa depan yang hilang karena tidak ada lagi kemampuan untuk menabung. Contohnya, biaya untuk pendidikan anak, biaya pergi ibadah, dana untuk pensiun, dll.
  6. Biaya untuk menutupi kekurangan biaya yang dijamin proteksi kesehatan, baik itu dari perusahaan asuransi milik pemerintah ataupun perusahaan asuransi swasta

Gambar di bawah ini menunjukan bahwa kanker adalah salah satu penyakit  dengan biaya paling mahal.

Menurut Dr. Ulfana Said Umar, Wakil Sekretaris Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) (2/8/2012), “Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan kanker itu cukup besar, antara Rp 102 – 106 juta / bulan”

“Biaya yang dibutuhkan untuk diagnosa awal saja dapat mencapai Rp 10 juta. Apabila akan dioperasi, biaya minimal yang dibutuhkan sekitar Rp25 jt-Rp29 jt. Selain itu, masih harus radiasi dan kemoterapi dengan biaya Rp 2 jt  – Rp6 jt sekali terapi dengan rata-rata butuh 6 kali terapi.”

Ada sebagian orang berpendapat bahwa proteksi sakit kritis itu tidak penting. Sebab kriteria pengambilan klaimnya sangat berat, yakni saat orang sudah hampir wafat.

Satu hal yang perlu disadari, saat seseorang menderita sakit kritis dan ia langsung wafat, maka biaya yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Bahkan jika ia punya proteksi jiwa, uang pertanggungannnya bisa segera cair setelah ia wafat.

Pertanyaannya, bagaimana kalau ia menderita sakit kritis dalam waktu lama?

Sebagai contoh.

  1. Seseorang menderita gagal kedua ginjalnya. Ia harus cuci darah seminggu sekali seumur hidupnya dan ia tidak boleh bekerja berat lagi.
  2. Seseorang menderita stroke, lumpuh separuh badan. Ia tetap membutuhkan penghasilan untuk hidup sehari-harinya namun ia tidak mampu untuk bekerja lagi.
  3. Seseorang menderita kanker.Secara perlahan-lahan kondisi badannya semakin melemah. Ia butuh suplemen kesehatan dan perawatan rutin setiap harinya. Tentu biaya untuk suplemen kesehatan dan perawatan rutin sangat mahal harganya.

Ada 3 fakta terkait sakit kritis

  1. Sakit kritis dapat mengakibatkan ketidakmampuan untuk bekerja secara normal. Dampaknya adalah hilangnya penghasilan dan berkurangnya gaya hidup.
  2. Sakit kritis seperti kanker, stroke, jantung, dan ginjal membutuhkan biaya pengobatan hingga ratusan juta bahkan milyaran rupiah. Proteksi kesehatan yang anda miliki mungkin belum mampu  menjamin semua biaya pengobatan sakit kritis
  3. Sakit kritis dapat menyerang siapa saja, tanpa pandang usia dan jenis kelamin.

Ada 7 fakta terkait proteksi sakit kritis

  1. Proteksi sakit kritis bukanlah pertolongan utama pada saat seseorang menderita sakit kritis. Pertolongan yang utama tentu berasal dari proteksi kesehatan yang dimiliki oleh orang tersebut.
  2. Proteksi sakit kritis adalah pertolongan kedua yang dapat membantu apabila proteksi kesehatan tidak mencukupi
  3. Proteksi sakit kritis bisa juga digunakan untuk membantu pada saat proses pemulihan sakit kritis
  4. Proteksi sakit kritis dapat berfungsi sebagai pengganti penghasilan seseorang. Uang santunan yang didapat bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar berbagai macam cicilan, dll. Fungsi ini tidak bisa digantikan oleh proteksi kesehatan sebagus apapun
  5. Proteksi sakit kritis tidak berbentuk kartu sebagai jaminan di rumah sakit saat berobat. Proteksi yang berbentuk kartu satu-satunya hanya proteksi kesehatan.
  6. Nilai santunan proteksi sakit kritis tidak berhubungan dengan besar biaya pengobatan di rumah sakit. Nilai santunannya disesuaikan nilai santunan yang tertulis pada polis.
  7. Ada dua jenis proteksi sakit kritis, yaitu proteksi sakit kritis untuk stadium akhir dan proteksi sakit kritis untuk stadium awal hingga stadium akhir.

Setelah membaca penjelasan di atas, anda telah tahu perbedaan antara proteksi kesehatan dan proteksi sakit kritis. Anda juga tahu pentingnya proteksi sakit kritis.

Nugroho Atma Hadi

Your Trusted Financial Advisor

Whatsapp & Phone : 085695848493

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat
%d bloggers like this: